Nama
saya Hari Ramdani, umur saya 18 tahun, lahir di Bandung 31 Januari 1997. Saya
anak ketiga dari empat bersaudara. Ayah saya bernama Zaenal Sabar, usia 51
tahun pekerjaan sebagai supir freelance dan ibu saya bernama Meny Supriati
pekerjaan menjual aneka snack dan kue di rumah, kedua kakak saya laki-laki dan
sudah bekerja sebagai pegawai di salah satu mall di Bandung, kakak pertama saya
sudah menikah dan sudah menetap dirumah ibu mertuanya, kakak saya yang kedua
belum menikah, bekerja di tempat yang sama. Saya termasuk keluarga yang
berkecukupan sebenarnya akan tetapi tidak jarang pula kekurangan, saya baru
saja lulus SMA (Man Majalaya) program Ipa selama tiga tahun itu, saya belajar
banyak ilmu pengetahuan dan sains lalu mendapat prestasi ketika itu saat masih
kelas Dua saya menjadi Ketua Osis satu tahun penuh. Setelah lulus saya
bercita-cita ingin menjadi orang sukses, menjadi orang
yang berguna dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Setelah lulus tadinya saya
ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, lalu saya berjuang mengambil jalur
undangan di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan PKN dan
Teknik Elektro, akan tetapi sayang sekali belum ada rezekinya, kesempatan kedua
saya coba daftar SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri) dengan
memilih Universitas Padjadjaran dengan jurusan Pertanian dan Industri Pertanian
karena saya tertarik dengan pertanian, ketika itu Tes tulis berlangsung di SMA
8 Pasundan. Menunggu hasil pengumuman selama satu bulan sangat menguras emosi,
apalagi pengumuman secara On line, banyak teman-teman saya yang lulus SBMPTN
membuat saya yakin akan lulus juga akan tetapi setelah akhirnya saya buka di
web site resmi masih saja tercantum tanda merah dalam hasil pengumumannya yang
menandakan saya tidak lulus seleksi. Terbayang keinginan untuk bersekolah
lanjut di Universitas Swasta namun kembali kepada ekonomi keluarga yang saya
pusingkan,
mengingat prinsip bisa menyekolahkan hingga SMA saja itu sebuah pencapaian
terbaik dalam pandangan keluarga saya. Terpikir juga untuk masuk perguruan tinggi
negeri dengan jalur reguler namun kembali, saya hanya mengandalkan
jalur beasiswa atau jalur undangan bila ingin melanjutkan sekolah ke perguruan
tinggi, karena diluar dari pada kondisi keluarga yang serba berkecukupan, saya
tidak ingin menjadi beban keluarga bila saya mendaftar melalui jalur reguler
mengingat biayanya tidak lah murah, selain itu saya juga memiliki adik perempuan yang sebentar lagi di tahun depan lulus SMA,
adik saya mempunyai pemikiran yang sama dengan saya yaitu ingin melanjutkan sekolah ke
jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi menguliahkan dua orang bersamaan dengan
melihat situasi ekonomi dan kondisi pemasukan keuangan orang tua yang tidak
tetap serta fisik kedua orang tua yang
sudah mulai terpaut usia mungkin saya akan menjadi beban tanggungan yang harus
di pikul oleh kedua orang tua saya. Saya pun bingung setelah ini apa? Ingin
kuliah seperti ini kendalanya. Di tengah mental saya yang mungkin tidak lama
lagi akan roboh, disitu saya berdoa dan terus berdoa mengharapkan jalan
terbaik. “ya Allah tolong buka jalan terbaik untuk saya” .masa-masa bingun itu
membuat pendirian saya terombang-ambing, disisi lain saya ingin bekerja tetapi
kerja dimana, disamping mental untuk bekerja belum kuat, bila melanjutkan
sekolah ditahun ini sudah tidak ada harapan karena banyak jalur beasisiwa sudah
di tutup disisi lain saya mengambil keputusan jangka panjang yaitu mendaftar
kuliah kembali melalui jalur SBMPTN tahun depan bila ada kesempatan lalu
mengisi satu tahun ini dengan hal yang positif dan tentunya harus dalam
lingkaran pembelejaran tapi bila terpaksa harus bekerja dan itu memungkinkan,
saya ambil itu. Namun pada satu waktu saya diperkenalkan tentang The Learning
Farm oleh salah satu staff TLF itu sendiri yakni Kang Dhanny, katanya ada
program belajar 100 hari tentang pertanian organik, karena ruang lingkupnya
masih dalam pertanian dan saya sempat tertarik oleh itu kemudian saya tertarik,
terdapat kabar juga bahwa di TLF saya tinggal belajar karena soal biaya telah
didanai oleh donatur, saya pun langsung mengatakan Ya dengan kesempatan ini
tanda tekad saya ingin belajar masih terpelihara. Pada akhirnya saya tiba di TLF
tanggal 9 Agustus 2015, ketika itu kesan pertama sangat luar biasa, setiap
kedatangan siswa yang baru tiba selalu disambut dengan tangan-tangan rendah
hati menanyakan nama dan asal. Selang hari berikutnya saya diperkenalkan dengan
pertanian organik, tadinya saya pikir disini itu hanya belajar tentang
pertanian saja, akan tetapi tidak, saya dan teman-teman yang lain mendapat
pelajaran tambahan extra selaijn pertanian organik , yaitu komputer dan bahasa
inggris, selain itu di hari sabtu juga terkadang saya mendapat ilmu hebat
lainnya dari volunteer yang pernah datang.
Belajar
pertanian organik selain kami bisa berlajar bertani, kami juga belajar tentang
ilmu alam, di organik tidak ada peestisida kimia, di organik kami bisa mandiri
tanpa ketergantungan, pertanian organik yang sangat ramah lingkungan membuat
kami bisa menyadari betapa pentingnya keberlangsungan ekosistem yang ada, lebih
menghargai mahkluk hidupnya membuat manusia seperti kami sebagai pengendali
ekosistem. Jika kimia, selain itu berbahaya bagi tumbuhan sayuran juga bila
dikonsumsi akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, pertanian konvensional
yang menggunakan pupuk kimia juga sangat merusak lingkungan, kesehatan tanah
terganggu, keseimbangan ekosistem di alam menjadi tidak seimbang karena banyak
makhluk hidup kecil seperti serangga tidak bisa hidup di lingkungan tersebut.
Bukankah Tuhan sudah menciptakan alam ini dengan sangat seimbang? Mengapa
manusia harus menghalalkan segala cara untuk mendapat hasil yang baik dan cepat
tapi merusak lingkungan secara jangka panjang dan membahayakan kesehatan
manusia karena terus mengonsumsi sayuran yang mengandung kimia, sebenarnya di
Organik juga kami diajarkan agar lebih mengenal alam dan menghargai pencipta
alam supaya tidak merusaknya, berarti di organik kami juga belajar tentang
karya cipta Tuhan. Harapan saya setelah belajar dari sini itu ingin menjadi
generasi pelurus sebagaimana yang di ajarkan disini, memperkenalkan bahwa
pekerjaan sebagai petani itu tidak lah kampungan, ingat lah bahwa kita semua
ini banyak memakan makanan yang berasal dari karya cipta petani. Dan juga ingin
membuktikan bahwa pekerjaan petani bukan pekerjaan yang terus monoton di
kampung, saya ingin mengubah kesepakatan tak tertulis di masyarakat tentang
petani, saya ingin mengubah slogan yang tadinya petani itu berdaki menjadi
petani berdasi, sesungguhnya petani juga bisa berdasi, saya ingin membuktikan
itu, saya tegaskan mimpi baru saya setelah ikut belajar di TLF ialah saya ingin
menjadi petani berdasi bukan berdaki.
Lalu
luar biasanya disini itu kami belajar banyak tentang ilmu kehidupan. Salah
satunya disini kami di ajarkan 6 value, yaitu: Jujur, Mandiri, Disiplin,
Peduli, Kerja sama, dan Tanggung jawab. Dalam kehidupan sebenarnya sebenarnya,
katanya 6 value itulah yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai sebuah
kesuksesan, dan disinilah saya belajar itu bersama teman-teman yang lain
menjadikan kegiatan setiap harinya itu menerapkan prinsip-prinsip luar biasa
tersebut, sampai akhirnya membentuk menjadi kesatuan keluarga Indonesia kecil,
ini benar-benar pembelajaran yang lengkap menurut saya, luar biasa. Apalagi
teman-teman say disini itu berasal dari seluruh penjuru Indonesia, sebagian
besar orang luar pulau jawa total ada 13 provinsi, ini menjadi suatu hal yang
tidak biasa, saya dan teman-teman disatukan menjadi keluarga besar ditengan
perbedaan ras, suku, bahasa, dan budaya, tapi demikianlah Indonesia yang
Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan itu selalu ada namun itu bukan kendala agar kami
bisa menjadi satu sama lain, disini saya merasa yang paling banyak mendapat
pelajaran dari teman-teman semua lalu mendapat sedikit pengetahuan terutama
tentang wilayah Indonesia yang luas, disini saya bisa berkeliling Indonesia
hanya dengan sebuah cerita saya di ajak mengenal dan menjelajahi pulau-pulau di
Nusantara seperti Kalimantan yang terkenal dengan hutannya sebagai penjaga
keseimbangan paru-paru dunia, Sumatera sebagai pulau yang kaya akan minyak,
Aceh kota serambi Mekah yang sebelumnya ingin merdeka karena indah dan kaya,
Lampung dengan biji kopinya yang khas,
Nusa Tenggara Barat dengan Rinjaninya, Flores dengan bahasa Portugisnya,
lalu Maluku yang katanya banyak sekali dari mereka yang berketurunan Belanda
dan yang paling eksotik adalah Sorong dengan Raja Ampatnya. Pengetahuan ini benar-benar
menambah deretan mimpi saya, yakni ingin berkeliling Indonesia dan akan
mengenal lebih jauh tentang negeri yang katanya tanah surga, impian jangka
panjang inilah yang akan saya pegang teguh.
Teman-teman
disini sangat perhatian kepada saya, seperti layaknya keluarga sungguhan di
umur saya yang masih 18 tahun disini saya lah yang paling adikkan mengingat
sebagian besar teman-teman sudah berumur 20 ke atas. Saya menerima banyak
pengetahuan dari pengalaman-pengalaman teman-teman yang sebenarnya cocok
disebut Abang-abang saya dalam tulisan ini, bahkan banyak yang mereka ceritakan
hingga ke satu titik bisa berada disini, ilmu kehidupan lainnya yang saya
dapatkan dari kebersamaan ini adalah harus menghargai penuh kepada seseorang
yang umurnya jauh diatas kita, saling menghormati, menasehati kepada sesama,
Abang-abang saya mengajarkan hal itu kepada saya. Ada sebagian teman-teman yang
menginsipirasi saya, dan seperti yang tadi saya bilang, pengalamanya menjadi
wawasan bagi saya. Di luar dari pada itu kesulitan dalam memahami perasaan teman yang sedikit
menyebalkan pasti selalu ada namun karena saya sudah pernah menjadi ketua dalam organisasi sekolah
membuat saya tidak terlalu kaget memandang hal itu. Ada hal kecil yang ingin
saya banggakan yaitu saya disini kerap
dipanggil “Pa Bos”, “Pak Ketua”, bahkan kapten juga sempat itu di dasarkan
karena disini saya mendapat kepercayaan memimpin kelompok dua yang bernama
Lepidoptera, ini saya dapatkan dari kepercayaan teman-teman kelompok yang
beranggotakan 10 orang itu. Ini mengingatkan saya pada kejadian di masa lalu
saat saya menjadi Ketua Osis di SMA. Mereka pengurus-pengurus yang lain kerap
dan sering memanggil saya dengan sapaan Pa Bos, Pa Ketos, dan sapaan lainnya.
Ini menimbulkan rasa percaya diri saya dalam memimpin teman-teman karena di TLF
saya selain melatih memimpin diri sendiri saya juga dilatih tentang bagaimana
memimpin orang lain atau yang biasa disebut kepemimpinan. Tentu dalam sikap dan
wibawa saya masih banyakl sekali kekurangan dan terkadang banyak keegoisan
dalam celah-celahnya, namun karena itu lah saya belajar di TLF, ingin
meminimalisir keegoisan itu menjaga etik dan harus-harus berhati-hati dalam
berbicara, jangan sampai membuat orang lain merasa sakit hati, itu yang sedang
saya benahi karena saya merasa dimana saya tinggal dan berada, jiwa kepemimpian
saya selalu dilatih agar terus berkembang dan menjadi lebih baik dan bijak. Ini
menciptakan sebuah harapan baru jika suatu saat nanti dimana pun dan kapan pun
sapaan itu terus melekat dalam diri saya, karena harapan barunya dalam hal ini
yaitu saya ingin memiliki lapangan pekerjaan kecil, saya ingin memimpin suatu
pekerjaan dalam sistem itu saya tidak mau terus yang diatur, tapi sebisa
mungkin saya ingin yang mengatur.
Dan
kesimpulan dari impian dan harapan-harapan itu untuk saat ini ialah saya ingin
dan akan terus belajar, formal atau non formal, apapun itu akan tetapi masih
dalam ruang lingkup suatu pembelajaran. Bila tidak bekerja pun tidak menutupi
kemungkinan untuk bisa sukses, selagi umur yang masih muda bahwasebenarnya
bekerja itu pun adalah belajar. Di TLF ini adalah tempat untuk mempersiapkan
diri untuk saya meneruskan perjalanan berjuang demi mencapai cita-cita yang
sudah di tulis Tuhan. Manusia sebagai yang maha rencana hanya bisa berencana,
berusaha dan berdoa yang menjadi pemberi jalan terbaik ialah Tuhan Yang Maha
Esa.