Selasa, 08 Desember 2015

AKU

Nama saya Hari Ramdani, umur saya 18 tahun, lahir di Bandung 31 Januari 1997. Saya anak ketiga dari empat bersaudara. Ayah saya bernama Zaenal Sabar, usia 51 tahun pekerjaan sebagai supir freelance dan ibu saya bernama Meny Supriati pekerjaan menjual aneka snack dan kue di rumah, kedua kakak saya laki-laki dan sudah bekerja sebagai pegawai di salah satu mall di Bandung, kakak pertama saya sudah menikah dan sudah menetap dirumah ibu mertuanya, kakak saya yang kedua belum menikah, bekerja di tempat yang sama. Saya termasuk keluarga yang berkecukupan sebenarnya akan tetapi tidak jarang pula kekurangan, saya baru saja lulus SMA (Man Majalaya) program Ipa selama tiga tahun itu, saya belajar banyak ilmu pengetahuan dan sains lalu mendapat prestasi ketika itu saat masih kelas Dua saya menjadi Ketua Osis satu tahun penuh. Setelah lulus saya bercita-cita ingin menjadi orang sukses, menjadi orang yang berguna dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Setelah lulus tadinya saya ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, lalu saya berjuang mengambil jalur undangan di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan PKN dan Teknik Elektro, akan tetapi sayang sekali belum ada rezekinya, kesempatan kedua saya coba daftar SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri) dengan memilih Universitas Padjadjaran dengan jurusan Pertanian dan Industri Pertanian karena saya tertarik dengan pertanian, ketika itu Tes tulis berlangsung di SMA 8 Pasundan. Menunggu hasil pengumuman selama satu bulan sangat menguras emosi, apalagi pengumuman secara On line, banyak teman-teman saya yang lulus SBMPTN membuat saya yakin akan lulus juga akan tetapi setelah akhirnya saya buka di web site resmi masih saja tercantum tanda merah dalam hasil pengumumannya yang menandakan saya tidak lulus seleksi. Terbayang keinginan untuk bersekolah lanjut di Universitas Swasta namun kembali kepada ekonomi keluarga yang saya pusingkan, mengingat prinsip bisa menyekolahkan hingga SMA saja itu sebuah pencapaian terbaik dalam pandangan keluarga saya. Terpikir juga untuk masuk perguruan tinggi negeri dengan jalur reguler namun kembali, saya hanya mengandalkan jalur beasiswa atau jalur undangan bila ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, karena diluar dari pada kondisi keluarga yang serba berkecukupan, saya tidak ingin menjadi beban keluarga bila saya mendaftar melalui jalur reguler mengingat biayanya tidak lah murah, selain itu saya juga memiliki adik perempuan  yang sebentar lagi di tahun depan lulus SMA, adik saya mempunyai pemikiran yang sama dengan saya yaitu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi menguliahkan dua orang bersamaan dengan melihat situasi ekonomi dan kondisi pemasukan keuangan orang tua yang tidak tetap serta  fisik kedua orang tua yang sudah mulai terpaut usia mungkin saya akan menjadi beban tanggungan yang harus di pikul oleh kedua orang tua saya. Saya pun bingung setelah ini apa? Ingin kuliah seperti ini kendalanya. Di tengah mental saya yang mungkin tidak lama lagi akan roboh, disitu saya berdoa dan terus berdoa mengharapkan jalan terbaik. “ya Allah tolong buka jalan terbaik untuk saya” .masa-masa bingun itu membuat pendirian saya terombang-ambing, disisi lain saya ingin bekerja tetapi kerja dimana, disamping mental untuk bekerja belum kuat, bila melanjutkan sekolah ditahun ini sudah tidak ada harapan karena banyak jalur beasisiwa sudah di tutup disisi lain saya mengambil keputusan jangka panjang yaitu mendaftar kuliah kembali melalui jalur SBMPTN tahun depan bila ada kesempatan lalu mengisi satu tahun ini dengan hal yang positif dan tentunya harus dalam lingkaran pembelejaran tapi bila terpaksa harus bekerja dan itu memungkinkan, saya ambil itu. Namun pada satu waktu saya diperkenalkan tentang The Learning Farm oleh salah satu staff TLF itu sendiri yakni Kang Dhanny, katanya ada program belajar 100 hari tentang pertanian organik, karena ruang lingkupnya masih dalam pertanian dan saya sempat tertarik oleh itu kemudian saya tertarik, terdapat kabar juga bahwa di TLF saya tinggal belajar karena soal biaya telah didanai oleh donatur, saya pun langsung mengatakan Ya dengan kesempatan ini tanda tekad saya ingin belajar masih terpelihara. Pada akhirnya saya tiba di TLF tanggal 9 Agustus 2015, ketika itu kesan pertama sangat luar biasa, setiap kedatangan siswa yang baru tiba selalu disambut dengan tangan-tangan rendah hati menanyakan nama dan asal. Selang hari berikutnya saya diperkenalkan dengan pertanian organik, tadinya saya pikir disini itu hanya belajar tentang pertanian saja, akan tetapi tidak, saya dan teman-teman yang lain mendapat pelajaran tambahan extra selaijn pertanian organik , yaitu komputer dan bahasa inggris, selain itu di hari sabtu juga terkadang saya mendapat ilmu hebat lainnya dari volunteer yang pernah datang.
Belajar pertanian organik selain kami bisa berlajar bertani, kami juga belajar tentang ilmu alam, di organik tidak ada peestisida kimia, di organik kami bisa mandiri tanpa ketergantungan, pertanian organik yang sangat ramah lingkungan membuat kami bisa menyadari betapa pentingnya keberlangsungan ekosistem yang ada, lebih menghargai mahkluk hidupnya membuat manusia seperti kami sebagai pengendali ekosistem. Jika kimia, selain itu berbahaya bagi tumbuhan sayuran juga bila dikonsumsi akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia juga sangat merusak lingkungan, kesehatan tanah terganggu, keseimbangan ekosistem di alam menjadi tidak seimbang karena banyak makhluk hidup kecil seperti serangga tidak bisa hidup di lingkungan tersebut. Bukankah Tuhan sudah menciptakan alam ini dengan sangat seimbang? Mengapa manusia harus menghalalkan segala cara untuk mendapat hasil yang baik dan cepat tapi merusak lingkungan secara jangka panjang dan membahayakan kesehatan manusia karena terus mengonsumsi sayuran yang mengandung kimia, sebenarnya di Organik juga kami diajarkan agar lebih mengenal alam dan menghargai pencipta alam supaya tidak merusaknya, berarti di organik kami juga belajar tentang karya cipta Tuhan. Harapan saya setelah belajar dari sini itu ingin menjadi generasi pelurus sebagaimana yang di ajarkan disini, memperkenalkan bahwa pekerjaan sebagai petani itu tidak lah kampungan, ingat lah bahwa kita semua ini banyak memakan makanan yang berasal dari karya cipta petani. Dan juga ingin membuktikan bahwa pekerjaan petani bukan pekerjaan yang terus monoton di kampung, saya ingin mengubah kesepakatan tak tertulis di masyarakat tentang petani, saya ingin mengubah slogan yang tadinya petani itu berdaki menjadi petani berdasi, sesungguhnya petani juga bisa berdasi, saya ingin membuktikan itu, saya tegaskan mimpi baru saya setelah ikut belajar di TLF ialah saya ingin menjadi petani berdasi bukan berdaki.
Lalu luar biasanya disini itu kami belajar banyak tentang ilmu kehidupan. Salah satunya disini kami di ajarkan 6 value, yaitu: Jujur, Mandiri, Disiplin, Peduli, Kerja sama, dan Tanggung jawab. Dalam kehidupan sebenarnya sebenarnya, katanya 6 value itulah yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai sebuah kesuksesan, dan disinilah saya belajar itu bersama teman-teman yang lain menjadikan kegiatan setiap harinya itu menerapkan prinsip-prinsip luar biasa tersebut, sampai akhirnya membentuk menjadi kesatuan keluarga Indonesia kecil, ini benar-benar pembelajaran yang lengkap menurut saya, luar biasa. Apalagi teman-teman say disini itu berasal dari seluruh penjuru Indonesia, sebagian besar orang luar pulau jawa total ada 13 provinsi, ini menjadi suatu hal yang tidak biasa, saya dan teman-teman disatukan menjadi keluarga besar ditengan perbedaan ras, suku, bahasa, dan budaya, tapi demikianlah Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan itu selalu ada namun itu bukan kendala agar kami bisa menjadi satu sama lain, disini saya merasa yang paling banyak mendapat pelajaran dari teman-teman semua lalu mendapat sedikit pengetahuan terutama tentang wilayah Indonesia yang luas, disini saya bisa berkeliling Indonesia hanya dengan sebuah cerita saya di ajak mengenal dan menjelajahi pulau-pulau di Nusantara seperti Kalimantan yang terkenal dengan hutannya sebagai penjaga keseimbangan paru-paru dunia, Sumatera sebagai pulau yang kaya akan minyak, Aceh kota serambi Mekah yang sebelumnya ingin merdeka karena indah dan kaya, Lampung dengan biji kopinya yang khas,  Nusa Tenggara Barat dengan Rinjaninya, Flores dengan bahasa Portugisnya, lalu Maluku yang katanya banyak sekali dari mereka yang berketurunan Belanda dan yang paling eksotik adalah Sorong dengan Raja Ampatnya. Pengetahuan ini benar-benar menambah deretan mimpi saya, yakni ingin berkeliling Indonesia dan akan mengenal lebih jauh tentang negeri yang katanya tanah surga, impian jangka panjang inilah yang akan saya pegang teguh.
Teman-teman disini sangat perhatian kepada saya, seperti layaknya keluarga sungguhan di umur saya yang masih 18 tahun disini saya lah yang paling adikkan mengingat sebagian besar teman-teman sudah berumur 20 ke atas. Saya menerima banyak pengetahuan dari pengalaman-pengalaman teman-teman yang sebenarnya cocok disebut Abang-abang saya dalam tulisan ini, bahkan banyak yang mereka ceritakan hingga ke satu titik bisa berada disini, ilmu kehidupan lainnya yang saya dapatkan dari kebersamaan ini adalah harus menghargai penuh kepada seseorang yang umurnya jauh diatas kita, saling menghormati, menasehati kepada sesama, Abang-abang saya mengajarkan hal itu kepada saya. Ada sebagian teman-teman yang menginsipirasi saya, dan seperti yang tadi saya bilang, pengalamanya menjadi wawasan bagi saya. Di luar dari pada itu kesulitan dalam  memahami perasaan teman yang sedikit menyebalkan pasti selalu ada namun karena saya sudah  pernah menjadi ketua dalam organisasi sekolah membuat saya tidak terlalu kaget memandang hal itu. Ada hal kecil yang ingin saya banggakan  yaitu saya disini kerap dipanggil “Pa Bos”, “Pak Ketua”, bahkan kapten juga sempat itu di dasarkan karena disini saya mendapat kepercayaan memimpin kelompok dua yang bernama Lepidoptera, ini saya dapatkan dari kepercayaan teman-teman kelompok yang beranggotakan 10 orang itu. Ini mengingatkan saya pada kejadian di masa lalu saat saya menjadi Ketua Osis di SMA. Mereka pengurus-pengurus yang lain kerap dan sering memanggil saya dengan sapaan Pa Bos, Pa Ketos, dan sapaan lainnya. Ini menimbulkan rasa percaya diri saya dalam memimpin teman-teman karena di TLF saya selain melatih memimpin diri sendiri saya juga dilatih tentang bagaimana memimpin orang lain atau yang biasa disebut kepemimpinan. Tentu dalam sikap dan wibawa saya masih banyakl sekali kekurangan dan terkadang banyak keegoisan dalam celah-celahnya, namun karena itu lah saya belajar di TLF, ingin meminimalisir keegoisan itu menjaga etik dan harus-harus berhati-hati dalam berbicara, jangan sampai membuat orang lain merasa sakit hati, itu yang sedang saya benahi karena saya merasa dimana saya tinggal dan berada, jiwa kepemimpian saya selalu dilatih agar terus berkembang dan menjadi lebih baik dan bijak. Ini menciptakan sebuah harapan baru jika suatu saat nanti dimana pun dan kapan pun sapaan itu terus melekat dalam diri saya, karena harapan barunya dalam hal ini yaitu saya ingin memiliki lapangan pekerjaan kecil, saya ingin memimpin suatu pekerjaan dalam sistem itu saya tidak mau terus yang diatur, tapi sebisa mungkin saya ingin yang mengatur.

Dan kesimpulan dari impian dan harapan-harapan itu untuk saat ini ialah saya ingin dan akan terus belajar, formal atau non formal, apapun itu akan tetapi masih dalam ruang lingkup suatu pembelajaran. Bila tidak bekerja pun tidak menutupi kemungkinan untuk bisa sukses, selagi umur yang masih muda bahwasebenarnya bekerja itu pun adalah belajar. Di TLF ini adalah tempat untuk mempersiapkan diri untuk saya meneruskan perjalanan berjuang demi mencapai cita-cita yang sudah di tulis Tuhan. Manusia sebagai yang maha rencana hanya bisa berencana, berusaha dan berdoa yang menjadi pemberi jalan terbaik ialah Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar